BAB IPENDAHULUANLATAR BELAKANGKomunikasi merupakan salah satu hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia

BAB IPENDAHULUANLATAR BELAKANGKomunikasi merupakan salah satu hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Komunikasi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia, menyampaikan perasaan, menyampaikan tujuan, membangun hubungan dengan orang lain, hingga mempengaruhi orang lain CITATION Bar41 l 1033 (Barker & Gaut, 1941). Hybels dan Waaver (2004) mendefiniskan komunikasi sebagai semua proses untuk membagikan informasi, ide dan perasaan yang dimiliki oleh seseorang kepada orang lain. Berdasarkan pengertian tersebut, maka komunikasi yang efektif menjadi hal yang sangat penting supaya pesan yang dikirimkan oleh pengirim dapat diterjemahkan dengan arti yang sama pula oleh penerima pesan.

Komunikasi terbagi menjadi dua jenis, yakni komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Mehrabian, (1980, dalam Hybels & Waaver II, 2004), mengatakan bahwa 93% komunikasi menggunakan komunikasi non-verbal. Data tersebut menunjukkan peranan komunikasi non-verbal yang sangat sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Selanjutnya Brody, (1992, dalam Hybels & Waaver II, 2004), mengatakan bahwa 55% dari komunikasi non-verbal menggunakan ekspresi wajah, postur, serta gerakan tubuh; dan 38 % menggunakan nada yang digunakan dalam suara. Hal ini menunjukkan bahwa ekspresi wajah, postur, dan gerakan tubuh, merupakan jenis komunikasi nonverbal yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dibalik peranannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang komunikasi nonverbal menimbulkan kesalahpahaman. Salah satunya ialah kasus seorang remaja bernama Wendy, yang menikam temannya sendiri bernama Hendi Leonardo hingga tewas. Kejadian ini terjadi pada tanggal 8 Mei 2017. Hal ini berawal ketika Wendy bertemu dengan Hendi yang sedang bersama dengan teman-temannya. Ketika bertemu, Hendi berkata kepada Wendy “Ngape ngelik-ngelik, nak belage ape”, dalam bahasa Indonesia artinya ialah kenapa lihat-lihat, mau ngajak berkelahi apa. Kemudian karena merasa takut, Wendy pergi dan mengambil sebuah pisau. Selanjutnya, mereka bertemu kembali di lapangan voli dan kemudian berkelahi. Merasa dalam posisi yang tidak aman, Wendy menusukkan pisau ke bagian dada korban dan kemudian melarikan diri CITATION Wed17 l 1033 (Wedya, 2017). Dalam kejadian tersebut, kata ngelik-ngelik atau lihat-lihat menunjukkan bahwa ungkapan verbal tersebut terjadi setelah munculnya sebuah ekspresi wajah tertentu; dan kemudian dilanjutkan dengan munculnya persepsi “nak belage ape” atau “mau mengajak berkelahi apa”. Berdasarkan penjelasan tersebut maka penyebab munculnya masalah dapat dikarenakan oleh kesalahpahaman dalam mengartikan ekspresi nonverbal, secara khusus ekspresi wajah, yang menyebabkan tewasnya seseorang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Untuk lebih mengkaji relevansi permasalahan terkait kesalahpahaman mengartikan nonverbal dalam kehidupan sehari-hari, peneliti melakukan survey dengan membagikan kuesioner secara online kepada 17 responden. Hasilnya ialah 88,24% atau 15 orang responden pernah mengalami kesalahpahaman dalam menggunakan komunikasi nonverbal. Selanjutnya, sebanyak 80% dari 15 responden tersebut mengalami kesalahpahaman dalam mempersepsikan ekspresi wajah. Hasil survey tersebut juga menunjukkan bahwa sebanyak 66,67% dari pengalaman salah paham mempersepsikan ekspresi wajah ialah kesalahpahaman mengartikan emosi. Sebanyak 87,5% responden tersebut salah dalam mempersepsikan emosi marah serta sebaliknya. Data tersebut membuktikan bahwa kesalahpahaman dalam menggunakan komunikasi nonverbal, terutama mempersepsikan emosi melalui ekspresi wajah merupakan masalah yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, persepsi emosi merupakan sinyal komunikasi yang adaptif, yang memiliki banyak pengaruh dalam kehidupan sehari-hari CITATION Tra l 1033 (Tracy, Randles, & Steckler, 2015)Ekspresi wajah atau facial expression merupakan salah satu jenis dari komunikasi nonverbal. Ekspresi wajah merupakan proses menyampaikan pesan melalui wajah CITATION Bar41 l 1033 (Barker & Gaut, 1941). Ekspresi wajah menjadi salah satu media dalam menyampaikan emosi yang dimiliki oleh seseorang. Ketika seseorang merasakan suatu emosi tertentu, maka saraf akan mengirimkan pesan kepada wajah. Selanjutnya, wajah akan membuat suatu gerakan otot tertentu yang menjadi tanda bahwa orang tersebut sedang memiliki suatu emosi tertentu CITATION Bar41 l 1033 (Barker & Gaut, 1941). Penjelasan tersebut memperlihatkan ekspresi wajah yang memiliki karakteristik komunikasi nonverbal sebagai media untuk menunjukkan perasaan serta sikap yang dimiliki seseorang CITATION Hyb04 l 1033 (Hybels & Waaver II, 2004).

Permasalahan mengenai kesalahpahaman dalam penggunaan komunikasi nonverbal yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dikaitkan dengan karakteristik komunikasi nonverbal sebagai hasil bentukan dari budaya yang dimiliki oleh seseorang CITATION Hyb04 l 1033 (Hybels & Waaver II, 2004). Sebuah penelitian yang dilakukan diluar Indonesia, membandingkan antara budaya Anglo (Australia, Inggris, Afrika Selatan (White South Africa), Selandia Baru, Kanada, Irlandia dan Amerika Serikat) dengan budaya Timur atau Konfusian (China, Taiwan, Singapura, Hongkong, Korea Selatan, dan Jepang) menemukan bahwa terdapat kesalahan dalam membaca emosi antara pelanggan dengan service provider yang berasal dari budaya yang berbeda CITATION Tom141 l 1033 (Tombs, Bennett, & Ashkanasy, 2014). Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penjelasan bahwa persepsi emosi secara terus menerus dipengaruhi oleh konteks yang ada (Barrett, Lisa Feldman; Mesquita, Batja; Gendron, Maria;, 2011; Gendron, Roberson, Marietta, & Barret, 2014).
Wade, dkk (2016) mengemukakan bahwa budaya menjadi salah satu faktor yang menimbulkan perbedaan persepsi. Persepsi merupakan sekumpulan tindakan mental dimana dorongan-dorongan sensoris yang ada diatur menjadi sebuah pola yang memiliki makna CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, & Garry, 2016). Pebedaan persepsi atau perbedaan dalam pembentukan makna dari sebuah pola terbentuk melalui adanya cara berpikir yang berbeda serta sereotip yang menimbulkan perbedaan dalam memandang hal-hal yang penting untuk diperhatikan dan hal-hal yang diabaikan CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, & Garry, 2016).
Meski demikian, adapula beberapa penemuan yang mengatakan bahwa emosi merupakan hal yang universal dan tidak dipelajari melalui budaya-budaya tertentu (Ekman, 1972, 2003, dalam Barrett dkk, 2013). Ekman (dalam Barrett dkk, 2013) menemukan bahwa orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda akan mempersepsikan emosi yang sama yang muncul pada ekspresi wajah tertentu.
Di Indonesia, pada penelitian tahun 1989 (Prawitasari, 2006), Prawitasari mengembangkan sebuah alat yang berisikan foto-foto ekspresi wajah yang mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ekman untuk menjawab pertanyaan apakah komunikasi nonverbal bersifat universal atau mengandung bias budaya. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa orang Amerika dan orang Indonesia mampu mengenali ekspresi wajah yang diberikan namun dengan intensitas yang berbeda (Prawitasari, 2006). Prawitasari dan Martani (1993) melakukan penelitian mengenai kepekaan terhadap komunikasi nonverbal di antara masyarakat berbeda budaya. Sampel budaya yang diambil ialah Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan dan Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat kesamaan dan perbedaan dalam mengartikan komunikasi non verbal pada masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda CITATION Pra93 l 1033 (Prawitasari & Martani, 1993). Perbedaan dalam mengartikan emosi banyak terjadi pada emosi marah, takut, dan sedih.

Etnik sebagai bagian dari budaya CITATION Bar691 l 1033 (Barth, 1969) juga mendapatkan perhatian dalam mempengaruhi emosi. Matsumoto (1993) meneliti mengenai perbedaan etnik dengan emosi dengan sampel orang Amerika. Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat perbedaan pada penilaian emosi, display rules, dan ekspresi emosi pada laporan diri (Matsumoto, 1993). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Matsumoto (1993) tersebut menimbulkan pertanyaan bagi peneliti, apakah identitas etnik yang ada dimasyarakat Indonesia juga menimbulkan perbedaan dalam mengenali emosi pada ekspresi wajah sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prawitasari dan Martani (1993) atau justru sebaliknya.

Identitas etnik dapat diartikan sebagai identifikasi diri sebagai anggota dari suatu kelompok etnik yang diikuti dengan adanya sikap, perilaku, pengetahuan sebagai anggota dari kelompok etnik tersebut (Phinney, 1991; Tampubolon, 2016). Phinney (1990, 1996, dalam Ramdani, 2015) juga menjelaskan bahwa identitas etnik merupakan sebuah konstruk kompleks yang mengandung sebuah komitmen kepemilikan (sense of belonging) pada suatu kelompok etnik, serta adanya evaluasi positif pada kelompok etnik tersebut. Meski demikian, Chandra (Zaini, 2014) menjelaskan bahwa identitas etnik bersifat askriptif atau turun temurun. Beberapa identitas etnik yang ada di Indonesia ialah etnik Jawa, etnik Tionghoa, etnik Batak, etnik Sunda, dan lain-lain CITATION Nai11 l 1033 (Na’im ; Syaputra, 2011).
Dalam penelitian ini, etnik yang dipilih ialah etnik jawa dan etnik tionghoa. Etnik Jawa dan etnik Tionghoa dipahami sebagai individu yang berasal dari kedua orangtua yang memiliki etnik tersebut serta telah menginternalisasikan perasaan dan nilai-nilai yang dimiliki oleh etniknya. Pemilihan kedua etnik ini didasari oleh keberadaan masing-masing etnik yang menyebar hampir diseluruh wilayah Indonesia CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Banyaknya permasalahan antara etnik Jawa dan Tionghoa juga menjadi alasan peneliti dalam memilih kedua etnik tersebut. Permasalahan etnik Tionghoa di tanah Jawa dapat terlihat dengan banyaknya kerusuhan anti Tionghoa yang terjadi di pulau Jawa, seperti kerusuhan yang terjadi di Bandung tahun 1963, 1973, 1996, di Pekalongan pada tahun 1972, 1996, kerusuhan di Solo pada tahun 1980 dan 1998, kerusuhan di Tegal dan di Jakarta pada tahun 1998, hingga kerusuhan tahun 1999 di Kebumen CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010).

Selain keberadaan dan permasalahannya, alasan utama pemilihan kedua etnik tersebut dikarenakan oleh adanya perbedan yang kontras pada nilai-nilai yang dimiliki. Menurut Wade, Tavris dan Garry (2016) perbedaan nilai-nilai tersebut mampu mempengaruhi cara kedua etnik dalam berpikir dan membentuk persepsi-persepsi tertentu. Etnik Tionghoa memiliki stereotip sebagai sosok yang memiliki sikap vulgar dalam mengemukakan suatu hal CITATION Har94 l 1033 (Hariyono, 1994). Meski demikian, etnik Tionghoa memiliki sikap praktis fungsional. SIkap ini mengarahkan etnik Tionghoa untuk cenderung tidak memperhatikan nilai yang sebenarnya ada pada suatu hal CITATION Har94 l 1033 (Hariyono, 1994).
Etnik Jawa memilki nilai berbeda dengan etnik Tionghoa. Noorsena (2010) mengambarkan identitas orang Jawa yang terwakilkan dengan sosok Semar, yang cenderung Samar dalam mengekspresikan emosi yang dimiliki. Secara lebih lanjut ia menjelaskan bahwa etnik Jawa akan sulit dibedakan apakah ia sedang tersenyum atau menangis (Noorsena, 2010). Etnik Jawa memiliki prinsip kerukunan yang tidak menyangkut suatu sikap batin. Kontak sosial yang dilakukan oleh etnik Jawa bertujuan untuk menjaga keselarasan dalam pergaulan melalui permukaan hubungan sosial yang terlihat CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Selain itu, mengambil sebuah sikap secara spontan menjadi hal yang tidak etis pada etnik Jawa CITATION Har94 l 1033 (Hariyono, 1994).

RUMUSAN MASALAHBerdasarkan masalah yang dipaparkan tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah: Apakah terdapat perbedaan persepsi emosi pada ekspresi wajah berdasarkan identitas etnik?
TUJUAN PENELITIANTujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan persepsi emosi pada ekspresi wajah berdasarkan identitas etnik.

MANFAAT PENELITIANManfaat TeoritisPenelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi khazanah ilmu pengetahuan, secara khusus ilmu psikologi mengenai perbedaan persepsi emosi pada ekspresi wajah berdasarkan identitas etnik. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya dalam meneliti emosi dasar melalui ekspresi wajah dalam konteks budaya Indonesia.
Manfaat PraktisPenelitian ini diharapkan mampu berkontribusi bagi masyarakat luas dalam melakukan komunikasi antar budaya untuk mengevaluasi kembali informasi yang didapatkan dari persepsi mengenai emosi melalui ekspresi wajah di tengah keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

BAB IIDASAR TEORIPERSEPSI EMOSI PADA EKSPRESI WAJAH
Definisi EmosiJohn Watson (dalam Strongman 2003) mengatakan bahwa emosi merupakan pola reaksi berkelanjutan yang melibatkan perubahan sangat besar pada mekanisme tubuh secara keseluruhan, terutama pada bagian viseral dan sistem kelenjar. Secara lebih lanjut, Canon (dalam Strongman 2003) menjelaskan bahwa emosi merupakan hasil dari pelepasan neuron-neuron yang ada pada thalamus. Neuron-neuron tersebut berfungsi untuk menggerakkan otot-otot dan viscera serta untuk menyampaikan informasi kembali ke korteks.
Namun, Weizkrantz (1968, dalam Strongman, 2003) memiliki penjelasan yang berbeda mengenai emosi. Ia menjelaskan emosi sebagai respon-respon konsekuensi terhadap hal-hal yang menguatkan. Dalam perspektif yang sama, Hammond (dalam Strongman, 2003) menjelaskan emosi sebagai keadaan sentral dari makhluk hidup yang didapatkan melalui stimulus yang dipelajari dan tidak dipelajari yang kemudian terjadi melalui proses classical conditioning.
Berbeda dengan tokoh sebelumnya, Denzin (1984, dalam Strongman, 2003) mengatakan bahwa emosi merupakan self-feeling atau perasaan diri. Ia menjelaskan bahwa emosi merupakan perasaan diri dalam keadaan tertentu yang muncul dari hal-hal emosional dan aktivitas kognitif sosial yang terarah pada diri sendiri atau orang lain. Denzin (Strongman, 2003) juga menjelaskan bahwa emosi bergantung pada hubungan sosial yang meliputi komponen-komponen perasaan, intepretasi, kosa kata, serta sejarah sosial yang dimiliki.
Ekman (2003) mengatakan bahwa emosi merupakan sebuah proses penilaian otomatis yang dipengaruhi oleh proses evolusioner dan masa lalu personal, dimana seseorang mampu merasakan bahwa terdapat suatu hal yang penting terjadi berkaitan dengan keselamatan atau kesejahteraan diri mereka. Ekman (2003) juga mengemukakan bahwa emosi sebagai sebuah rangkaian perubahan psikologis dan perilaku yang berkaitan dengan emosi muncul untuk menghadapi situasi yang terjadi.

Seluruh penjelasan tokoh tersebut dapat terangkum dalam penjelasan yang diberikan oleh Izard (1977,1991, dalam Russell ; Fernandez-Dols, 2002) bahwa emosi meliputi neurofisiologis, perilaku, serta komponen-komponen subjektif. Matsumoto dan Hwang (2012) memberikan suatu definisi emosi yang mampu memberikan rangkuman definisi tokoh-tokoh yang ada. Mereka mendefinisikan emosi sebagai reaksi biopsikososial yang bersifat sementara terhadap suatu kejadian yang mengandung konsekuensi terhadap kesejahteraan seseorang dan berpotensi membutuhkan respon yang segera.
Emosi pada Ekspresi WajahPenggunaan ekspresi wajah untuk menunjukkan kondisi emosi seseorang sudah diteliti sejak pertengahan tahun 1800-an (Gendron ; Barett, 2017). Sekitar tahun 1980, psikologi menemukan bahwa wajah menjadi salah satu kunci untuk memahami emosi, dan emosi menjadi kunci untuk memahami wajah CITATION Rus02 l 1033 (Russell ; Fernandez-Dols, 2002). Izard mengatakan bahwa emosi pada suatu tingkat analisis merupakan aktivitas neuromuscular wajah CITATION Rus02 l 1033 (Russell ; Fernandez-Dols, 2002).

Dalam tulisannya, Russell ; Fernandez-Dols (2002) mengatakan bahwa ekspresi wajah memiliki dua pengertian yang berlawanan, yakni sebagai hasil produksi dari perilaku wajah serta sebagai reaksi (melibatkan proses persepsi) terhadap perilaku wajah. Ekspresi wajah sebagai hasil produksi dari wajah merupakan variabel yang independen. Penekanan dalam pengartian ini ialah kondisi internal maupun eksternal yang ada pada orang yang mengekspresikan ekspresi wajah (emosi, motif sosial, intensi, situasi yang terjadi, perkembangan, dan lain-lain) mempengaruhi perilaku wajah. Sedangkan, ekspresi wajah sebagai reaksi dari perilaku wajah mengungkapkan bahwa ekspresi wajah sebagai variabel independen. Pengertian ini menekankan pada bagaimana reaksi pengamat terhadap wajah. CITATION Rus02 l 1033 (Russell ; Fernandez-Dols, 2002)Paul Ekman (dalam Prawitasari, 2006), dalam penelitiannya mengenai ekspresi wajah untuk menunjukkan emosi dasar manusia, menyatakan bahwa emosi yang terlihat dalam di wajah bersifat universal karena merupakan gerakan otot saraf. Prawitasari (2006) memberikan contoh bahwa ketika seseorang marah maka mukanya akan memerah karena darah mengalir lebih cepat dan otot akan menengang. Selanjutnya, Prawitasari (2006) juga mengemukakan bahwa ketika takut maka pupil akan membesar dan keringat dingin keluar. Selain itu reaksi tersebut, reaksi tubuh yang muncul hampir sama dengan ketika marah.
Terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam meneliti kaitan antara gerakan wajah dengan kondisi emosi, yakni classical view of emotion dan constructionist view of emotion (Gendron ; Barett, 2017). Pendekatan classical view of emotion mengatakan bahwa sebuah konfigurasi mengenai suatu ekspresi wajah untuk menunjukkan satu jenis emosi dalam cara yang konsisten dan spesifik. Sedangkan pendekatan constructionist view of emotion mengatakan bahwa kategori emosi merupakan populasi dari variabel contoh yang sering muncul. Pendekatan ini mengatakan bahwa manusia menerima informasi dengan mengkonstruksikan persepsi dan pengalaman-pengalaman emosi secara individu dengan mengembangkan berbagai ciri-ciri melalui berbagai indera berdasarkan situasi yang ada (Gendron ; Barett, 2017).Jenis-jenis Emosi dan Ekspresi Wajah
Paul Ekman (2003) mengatakan bahwa emosi terdiri dari sedih, marah, terkejut, takut, jijik (contempt dan disgust), serta bahagia. Paul Ekman (2003) mengatakan bahwa masing-masing emosi memiliki intensitas yang berbeda yang secara jelas mampu terlihat pada wajah.
Di Indonesia sendiri, penelitian yang dilakukan oleh Prawitasari pada tahun 1991 (Prawitasari, 1995) mengungkapkan bahwa pada orang Indonesia emosi marah, sedih, senang, dan takut lebih sering digunakan. Penggunaan emosi dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat dengan banyaknya kata-kata sifat dibandingkan dengan emosi lainnya, seperti jijik, malu, dan terkejut.

Senang
Emosi senang merupakan jenis emosi positif. Positif emosi merupakan emosi yang lebih dapat dinikmati daripada untuk ditahan. Averill (Averill ; More, 1993 dalam Strongman, 2003) mengatakan bahwa senang sebagai suatu kondisi yang diikuti oleh berbagai pengalaman daripada sebagai hasil dari suatu aksi.
Ekman (2003) menjelaskan bahwa emosi senang seringkali diasosiasikan dengan munculnya senyum pada wajah. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa senyuman yang ada diwajah mampu dibagi menjadi dua jenis, yakni senyum yang mengandung unsur senang dengan senyum yang tidak mengandung unsur senang, seperti senyum untuk menunjukkan kesopanan, atau ketika seorang pendengar setuju dengan pendapat yang ada. Hal yang paling membedakan dari kedua senyum tersebut ialah senyuman yang lebar menyebabkan alis dan mata yang tertutup oleh lipatan kulit (diantara kelopak mata dengan alis) tertarik turun oleh otot yang mengitari mata, serta berdampak pada perubahan pada bagian pipi.
Marah
Ekman (2003) mengatakan bahwa emosi marah merupakan emosi yang muncul ketika terdapat sebuah hal yang menganggu atau menghalangi pekerjaan yang sedang atau ingin dilakukan oleh seseorang. Selain itu, Ekman (2003) juga menjelaskan bahwa marah juga merupakan respon emosi yang muncul ketika seseorang berusaha untuk melukai secara psikologis, menghina, serta merendahkan penampilan atau performansi. Selain itu, penolakan yang dilakukan oleh seseorang yang dicintai juga mampu memunculkan emosi marah.
Ekman (2003) menjelaskan bahwa marah memberikan sensasi perasaan tertekan, tegang, serta panas. Emosi marah menaikan detak jantung, pernapasan, tekanan darah, serta menjadikan muka merah. Emosi marah merupakan emosi yang berbahaya karena mampu mengeluarkan perilaku marah dan siklusnya berlangsung sangat cepat. Selain itu, emosi marah yang dimiliki seseorang mampu menyebabkan munculnya emosi marah pada orang lain.

Ekman (2003) menjelaskan perubahan ekspresi wajah terhadap emosi marah. Ketika seseorang baru saja mengalami emosi marah, ia akan menekan bersamaan dengan tekanan yang ringan pada bagian bawah kelopak mata. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga kunci kombinasi yang memastikan bahwa seseorang marah, yakni menurunkan alis, memberikan tekanan pada bagian bawah kelopak mata, serta menaikkan bagian atas kelopak mata.

Takut
Takut merupakan suatu perasaan yang tidak mengenakkan serta tidak dapat terkatakan mengenai suatu hal yang menunjukkan tanda tertentu yang bercampur dengan perubahan-perubahan pada tubuh baik yang termanifestasi dalam bentuk somatisasi maupun autonomisasi (Lader ; Marks, 1973 dalam Ohman, 2000).
Ekman (2003) menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami takut, maka darah akan mengalir kepada otot-otot besar pada bagian kaki, dan menyiapkan seseorang untuk melarikan diri. Apabila emosi takut tersebut tidak menyebabkan seseorang untuk freeze atau melakukan diri, maka akan memunculkan reaksi marah pada hal yang mengancam tersebut. Apabila hal yang mengancam tersebut lebih kuat, maka seseorang akan cenderung untuk takut dibandingkan marah; meskipun setelah berada dalam posisi aman emosi tersebut dapat berubah menjadi marah, baik marah pada hal yang mengancam tersebut ataupun marah pada diri sendiri karena menjadi takut daripada menghadapi situasi menakutkan yang ada.
Ekman (2003) menjelaskan perubahan wajah yang terjadi ketika seseorang takut. Kunci bawah seseorang takut terletak pada bagian bawah kelopak mata. Ketika tekanan pada kelopak mata bagian bawah disertai dengan naiknya kelopak mata bagian atas dan bagian wajah lainnya menjadi kosong. Pada orang takut, bibir akan direntangkan ke belakang mengarah ke mata.

Sedih
Ekman (2003) menjelaskan bahwa sedih merupakan emosi yang mengandung unsur pasrah dan tidak memiliki harapan dan bersifat pasif. Sedih juga merupakan salah satu emosi yang dapat bertahan cukup lama. Sedih biasanya diawali dengan adanya sebuah perasaan tidak terima yang berusaha untuk memperbaiki kehilangan yang terjadi hingga seseorang tersebut benar-benar merasa tidak berdaya.

Ekman (2003) menjelaskan bahwa sedih dapat muncul ketika seseorang mengalami kehilangan, seperti ditolak oleh teman atau kekasihnya, kehilangan kepercayaan diri karena gagal dalam mencapai target dalam pekerjaan, kehilangan pujian dari atasan, sakit, kehilangan beberapa bagian tubuh atau fungsi tubuh dikarenakan oleh sakit atau suatu kecelakaan, maupun kehilangan benda yang berharga.

Ekman (2003) mengemukakan bahwa emosi sedih akan sangat jelas terlihat pada kombinasi kelopak mata yang tampak berat serta sudut bagian dalam alis yang dinaikan. Ekman mengatakan bahwa alis menjadi hal yang paling penting dan memiliki reliabilitas yang tinggi dalam menunjukkan emosi sedih. Selanjutnya, pada bagian mulut orang yang marah sudut-sudut bibir akan ditarik ke bawah.

Persepsi Emosi pada Ekspresi WajahPersepsi merupakan sekumpulan tindakan mental yang mengatur dorongan-dorongan sensoris menjadi suatu pola yang bermakna CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, ; Garry, 2016). Persepsi mempengaruhi rangsangan atau pesan yang didapatkan serta berkaitan dengan makna yang diberikan pada stimulus ketika mencapai alam kesadaran CITATION DeV11 l 1033 (DeVito, 2011).
DeVito (2011) menjelaskan mengenai proses persepsi. Pada tahap pertama, indera manusia akan mendapatkan rangsangan atau stimulus dari luar. Pada tahap ini, indra akan menerima berbagai stimulus namun tidak semua stimulus akan digunakan. Individu akan cenderung untuk menangkap stimulus-stimulus yang dianggap bermakna daripada yang dianggap tidak bermakna.
Selanjutnya pada tahap kedua, stimulus yang diterima oleh indra akan diolah dengan beberapa prinsip. Diantaranya ialah prinsip kemiripan atau proximity dan kelengkapan atau closure. Prinsip kemiripan menjelaskan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan pesan yang secara fisik mirip dengan satu yang lain sebagai suatu kesatuan. Sedangkan, prinsip kelengkapan mengatakan bahwa seseorang cenderung untuk mempersepsikan suatu gambar yang tidak lengkap menjadi suatu gambar yang lengkap.

Tahapan yang ketiga ialah penafsiran-evaluasi. Tahap ini merupakan proses subjektif yang melibatkan evaluasi dari pihak penerima. Proses yang terjadi dalam tahapan ini sangatlah berkaitan dengan masa lalu, kebutuhan, sistem nilai, keyakinan, keadaan fisik serta emosi pada saat itu. Hal ini mengakibatkan setiap orang mampu untuk memiliki persepsi yang berbeda-beda.

Teori Model Emotion Expression in Context atau MEEC (Hess ;Hareli, 2016) menjelaskan bahwa ekspresi diterima dalam suatu konteks situasi yang ada di dunia nyata dan kemudian diintepretasikan dalam suatu konteks sesuai dengan dunia orang yang mempersepsikannya. Informasi dari dunia nyata yang berupa ekspresi tersebut akan diberikan suatu makna mengenai emosi yang disampaikan, dan proses ini akan dipengaruhi oleh sudut pandang penerima informasi sebagi suatu proses yang berkaitan dengan konteks garis besar yang sebelumnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut mengenai persepsi dan penjelasan sebelumnya mengenai emosi pada ekspresi wajah, maka persepsi emosi pada ekspresi wajah dapat diartikan sebagai sekumpulan tindakan mental yang dilakukan seseorang untuk memberikan makna berkaitan dengan emosi yang ada pada wajah sebagai bentuk ekspresi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Emosi pada Ekspresi WajahSecara umum, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi, yakni (1) kebutuhan, (2) kepercayaan, (3) Emosi, dan (4) Ekspektasi CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, ; Garry, 2016). Pertama yakni kebutuhan. Kebutuhan atau ketertarikan terhadap suatu hal menjadikan seseorang lebih mudah untuk mempersepsikan sesuatu sesuai kebutuhannya. Selanjutnya ialah kepercayaan. Kepercayaan yang dimiliki seseorang seringkali mepengaruhi intepretasi seseorang terhadap sesuatu. Dalam beberapa hal, individu mempersepsikan atau mengintepretasikan suatu hal sesuai dengan kepercayaan yang dimiliki. Faktor selanjutnya yang mempengaruhi persepsi ialah emosi. Emosi seseorang memperngaruhi bagaimana ia memaknai stimulus yang didapatkan. Terakhir yakni ekspektasi. Kecenderungan seseorang untuk mempersepsikan sesuatu sesuai dengan harapan yang dimilikinya dikenal dengan istilah set persepsi. Set persepsi membantu seseorang untuk mempersepsikan suatu hal secara keseluruhan. Namun, set persepsi juga mampu untuk membentuk kesalahan dalam melakukan persepsi.
Seluruh faktor tersebut dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki seseorang CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, ; Garry, 2016). Budaya yang berbeda membentuk cara berpikir yang berbeda. Selain itu, budaya yang berbeda juga dapat mempengaruhi persepsi melalui pembentuk stereotip yang mengarahkan perhatian seseorang pada hal yang dianggap penting untuk disadari dan diabaikan CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, ; Garry, 2016).
Secara khusus dalam mempersepsikan emosi, konteks menjadi hal yang sangat penting, baik konteks ketika mengungkapkan emosi dengan konteks orang yang akan mempersepsikan emosi. Brunswick memodifikasi model cara pandang mengenai persepsi orang, yang telah diterapkan pada komunikasi emosi oleh Scherer (1978, dalam Hess ; Hareli, 2017) yakni konteks budaya, hubungan sosial, dan konteks situasi. Dari seluruh jenis konteks yang ada, teradapat dua sumber informasi yang dapat berpengaruh, yakni informasi yang berkaitan dengan situasi yang memunculkan emosi, serta tambahan informasi yang dimiliki oleh penerima yang memiliki atau mengaplikasikan pada situasi. Hal ini menunjukkan bahwa penerima atau orang yang mempersepsikan memiliki peran aktif dalam proses persepsi (Kiouac ; Hess, 1999 dalam Hess ; Hareli, 2017)
Konteks penerima atau orang yang mempersepsikan emosi terdiri dari berbagai hal, yakni (1) ekspektasi stereotipe dan norma sosial, (2) cultural display rule, dan (3) tujuan, kebutuhan serta kondisi emosional orang yang mempersepsikan emosi. Ekspektasi stereotipe dan norma sosial. Norma sosial berbeda dengan stereotipe. Stereotipe dalam konteks ini seirng kali tersirat dalam sebuah norma perilaku. Norma-norma yang ada dimasyarakat mampu mempengaruhi identifikasi terhadap sinyal-sinyal emosi yang sudah berasosiasi dengan orang tertentu CITATION Hes l 1033 (Hess ; Hareli, 2017).
Hal kedua ialah adanya cultural display rules. Cultural display rules merupakan aturan-aturan sosio-budaya yang mengarahkan cara menunjukkan ekspresi emosi yang tepat (Ekman ; Friesen, 1971, dalam Hess ; Hareli, 2017). Hal ini juga dipengaruhi oleh perbedaan nilai budaya yang ada di masyarakat, seperti individualisme atau kolektivisme (Koopmann-Holm ; Matsumoto, 2011 dalam Hess ; Hareli, 2017). Dalam melakukan proses decoding, cultural display rules mampu membuat orang yang mempersepsikan sesuatu dengan kurang akurat pada ekspresi yang dilarang dalam budaya tertentu (Buck, 1984; Hess, 2001, dalam Hess ; Hareli, 2017) dan berdampak pula pada persepsi terhadap emosi.

Hal ketiga ialah adanya tujuan, kebutuhan, dan kondisi emosional dari orang yang mempersepsikan emosi tersebut. Seseorang yang tertarik dengan hal tertentu akan cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih pada hal-hal yang ada. Thibault et al (2006, dalam Hess ; Hareli, 2017) menemukan bahwa orang yang mengidentifikasikan dengan keanggotaan suatu grup secara kuat, lebih baik dalam menangkap ekspresi emosi pada anggota grup tersebut.
Hasil penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Prawitasari pada tahun 1997 (Prawitasari, 2006) menunjukkan bahwa yang membedakan persepsi ialah daerah geografis bukan jenis kelamin dari orang tersebut. Selain daerah, status pekerjaan juga mempunyai peran kecil dalam memberikan perbedaan persepsi mengenai ungkapan emosi.
Pengukuran Persepsi Emosi pada Ekspresi Wajah
Pada penelitian ini, persepsi emosi pada ekspresi wajah akan diukur dengan menggunakan alat stimuli emosi. Alat ini diciptakan oleh Johana E. Prawitasari pada tahun 1990. Pada awal penelitian, Prawitasari mendapatkan 72 foto yang akan diberikan penilaian lebih lanjut oleh empat orang penilai, laki-laki dan perempuan yang terdiri dari pengajar dan praktisi senior dan yunior. Selanjutnya, berdasarkan hasil penilaian tersebut terpilih 48 foto yang berdasarkan tiga dari empat penilai yang ada dinilai mampu mewakili emosi yang ingin diungkapkan. Stimuli emosi berisikan 24 slide foto ekspresi wajah yang mengungkap emosi marah, sedih, takut, dan senang yang berasal dari 6 model dari beberapa wilayah di Indonesia. Pada tahun 1991, Prawitasari (dalam Prawitasari, 1993) menemukan bahwa alat stimuli emosi tersebut memiliki koefisien reliabilitas yang bergerak antara 0,702 hingga 0,885.

Dalam pertemuan tatap muka yang dilakukan pada tanggal 30 Maret 2018 diperpustakaan ICBC Yogyakarta, Prawitasari mengemukakan bahwa konsep dasar yang digunakan dalam pembuatan foto ekspresi wajah ialah konsep yang dimiliki oleh Ekman, yang digunakan oleh Ekman dan Friesn dalam pembuatan Facial Action Coding System (FACS). Selain itu, Prawitasari juga mengatakan bahwa foto-foto ekspresi wajah yang diciptakan telah ditunjukkan kepad Ekman guna menguji apakah ekspresi wajah tersebut mampu mewakili emosi yang ingin diungkap.

IDENTITAS ETNIKDefinisi Identitas EtnikTrimble and Dickson (2010, dalam Zaini, 2014) menjelaskan bahwa identitas berasal dari bahasa Latin yakni Identitas, yang berakar dari kata idem. Kata idem sendiri memiliki arti “sama”. Zaini (2014) mengemukakan bahwa identitas dapat diartikan sebagai bentuk kesamaan seorang individu atau sesuatu dalam segala macam situasi yang menjadikan seseorang atau sesuatu tidak menjadi bagian dari kelompok lain.

Selanjutnya, Trimble and Dickson (2010, dalam Zaini, 2014) juga menjelaskan bahwa etnik merupakan Bahasa Yunani yang berasal dari kata ethnicuslethinikas. Ethnicuslethinikas berasal dari kata ethos yang berarti adat. Sedangkan kata ethnicuslethinikas sendiri diartikan sebagai bangsa. Oleh karena itu, etnik didefinisikan sebagai sekelompok bangsa yang memiliki kesamaan adat yang dimiliki secara bersama-sama dan hidup bersama CITATION Zai14 l 1033 (Zaini, 2014). Penjelasan bahwa etnik sebagai sekelompok manusia tersebut, sejalan dengan pengertian mengenai kelompok etnik yang dikemukakan oleh Weber (1968, dalam Varkuyten, 2005). Namun, ia menambahkan bahwa suatu kelompok etnik juga meyakini kepercayaan mengenai asal-usul bersama sebagai dasar dalam membentuk sebuah komunitas.
Identitas etnik mengandung arti sebagai identifikasi diri sebagai anggota dari suatu kelompok etnik yang diikuti dengan adanya sikap, perilaku, pengetahuan sebagai anggota dari kelompok etnik tersebut CITATION Phi911 l 1033 m Tam161(Phinney J. S., 1991; Tampubolon, 2016). Penjelasan tersebut sejalan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Kunstadter CITATION Hud98 l 1033 (Hudayana, 1998) bahwa identitas etnik merupakan proses dimana seseorang menandai dirinya sebagai bagian dari suatu etnik atau etnik yang lain. Kedua definisi tersebut sejalan dengan penjelasan Barth (1994, dalam Varkuyten, 2005) bahwa identitas etnik bukanlah suatu hal yang tetap, melainkan transaksional dan fleksibel bergantung pada situasi. Identitas etnik dinilai sebagai aspek pragmatis dari kumpulan interaksi sosial sehari-hari.

Berbeda dengan penjelasan sebelumnya, Phinney (1990, 1996, dalam Ramdani, 2015) mengatakan bahwa identitas etnik merupakan sebuah konstruk kompleks yang mengandung sebuah rasa memiliki (sense of belonging) pada kelompok etnik, serta adanya evaluasi positif pada kelompok etnik. Kemudian, Phinney (2007 dalam Ramdani, 2015) menambahkan penjelasannya bahwa identitas etnik juga merupakan perasaan seseorang dimana dirinya sebagai bagian dari anggota kelompok. Secara lebih lanjut, Phinney (2007 dalam Ramdani, 2015) menjelaskan bahwa identitas etnik berkembang dari waktu ke waktu melalui proses aktif penyelidikan, belajar, dan komitmen.
Disisi lain, Chandra CITATION Zai14 l 1033 (Zaini, 2014) memiliki pengertian lain dalam mendefinisikan identitas etnik. Ia mendefinisikan identitas etnik sebagai suatu konsep objektif serta konsep tunggal yang bersifat askriptif (turun temurun) yang didasarkan pada kesamaan yang dimiliki secara objektif. Dalam masyarakat multi-etnik, seseorang sangat mungkin untuk memiliki lebih dari satu identitas etnik atau disebut dengan multi-etnik. Hal ini dapat terjadi apabila orangtua memiliki etnik yang berbeda CITATION Isa93 l 1033 (Isajiw, 1993). Dalam hal seperti ini, beberapa bukti empiris mengatakan bahwa individu yang memiliki lebih dari satu identitas cenderung memilih salah satu etnik yang berasal dari identitas sang ayah (Breton, et al., 1990, dalam Isajiw, 1993).
Berdasarkan seluruh pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa identitas etnik merupakan proses identifikasi diri atau proses menandai diri pada suatu kelompok etnik tertentu yang bersifat askriptif atau turun menurun, melalui adanya proses evaluasi positif pada suatu kelompok etnik yang diikuti dengan adanya sikap, perilaku, pengetahuan sebagai anggota serta adanya perasaan memiliki pada suatu kelompok etnik.

Aspek-aspek Identitas EtnikIsajiw (1993) menjelaskan bahwa terdapat dua aspek mengenai identitas etnik, yakni aspek internal dan aspek eksternal. Aspek-aspek eksternal melipui perilaku-perilaku yang dapat diamati, baik sosial maupun budaya. Aspek-aspek eksternal ini berupa (1) kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa etnik dan mempraktikan tradisi-tradisi etnik, (2) berpartisipasi dalam jaringan-jaringan etnik seperti keluarga dan pertemanan, (3) berpartisipasi dalam organisasi-organiasi etnik, seperti gereja, sekolah, media, (4) berpartisipasi dalam kelompok-kelompok etnik seperti perkumpulan orang muda, perkumulan masyarakat etnik, serta (5) berpartisipasi pada acara sosial yang diadakan oleh kelompok etnik seperti piknik, pertunjukan, dan lain-lain.

Aspek-aspek internal dari identitas etnik membahas mengenai gambaran (images), gagasan-gagasan (ideas), sikap (attitudes), dan perasaan (feelings). Aspek-aspek internal tersebut berhubungan dengan perilaku-perilaku eksternal, namun masing-masing aspek berdiri sendiri-sendiri. Aspek internal dari identitas dapat dibedakan menjadi tiga dimensi, yakni kognitif, moral, dan perasaan.

Dimensi kognitif menggambarkan mengenai pengetahuan mengenai nilai-nilai dari suatu kelompok etnik. Secera lebih rinci, dimensi kognitif meliputi self-images serta gambaran grup yang dimiliki oleh seseorang yang mampu membentuk stereotipe mengenai seseorang maupun kelompok. Dimensi kognitif juga meliputi pengetahuan mengenai warisan dan sejarah dari suatu etnik.

Selanjutnya, dimensi moral dari identitas meliputi perasaan-perasaan mengenai kewajiban-kewajiban kelompok. Secara umum, perasaan menganai kewajiban kelompok yang harus dilakukan oleh seseorang melekatkan seseorang dengan kelompoknya serta menjadi suatu bentuk implikasi dari kelompok yang diperlihatkan melalui perilaku. Perasaan untuk menjalankan kewajiban kelompok dilandasi oleh komitmen seseorang kepada kelompoknya serta sebagai bentuk solidaritas.
Terakhir yakni dimensi perasaan (feelings). Dimensi ini mengarah pada perasaan mengenai kelekatan pada kelompok. Dimensi perasaan dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama ialah perasaan aman dengan simpati serta perwujudan dengan anggota-anggota kelompok sebagai kesatuan untuk melawan anggota-anggota dari kelompok lain. Selanjutnya, jenis dimensi perasaan yang kedua ialah perasaan aman dan nyaman dengan pola-pola suatu budaya sebagai perlawanan pola-pola budaya dari kelompok lain atau masyarakat.
Pengaruh Identitas EtnikKonsekuensi dari identitas etnik ialah munculnya sikap etnosentrisme. Etnosentrime merupakan suatu paham yang menganggap bahwa kebudayaan pada kelompok yang dimiliki lebih baik daripada kebudayaan kelompok lain. (Ali, Indrawari, ; Masyukur, 2010).
Liliweri (2005 dalam Ali, Indrawari, ; Masyukur, 2010) mengemukakan bahwa prasangka ialah sikap negatif yang diberikan kepada seseorang berdasarkan pada perbandingan dengan kelompok yang dimiliki seseorang. Salah satu jenis dari prasangka ialah prasangka etnik. Prasangka etnik dapat didefinisikan sebagai sikap negatif dari suatu kelompok etnik tertentu terhadap kelompok etnik lainnya yang berfokus pada ciri-ciri negatif sehingga menghambat hubungan antara etnik.
Zastrow (Ali, Indrawari, ; Masyukur, 2010) mengemukakan bahwa prasangka salah satunya disebabkan oleh karena adanya proyeksi atau sebagai suatu bentuk upaya dalam mempertahankan ciri kelompok setnik atau ras secara berlebihan. Gundykunst menambahkan bahwa prasangka dapat muncul karena adanya kesadaran akan sasaran prasangka, yakni ras atau etnik lain. Kesadaran-kesadaran tersebut meliputi kesadaran bahwa sasaran prasangka merupakan kelompok lain yang memiliki latar belakang dengan kebudayaan dan mental yang berbeda, tidak mampu untuk beradaptasi, selalu terlibat dalam tindakan-tindakan negatif, serta kesadaran bahwa kehadiran kelompok etnik lain tersebut mampu mengancam stabilitas sosial dan ekonomi.
Selain itu, prasangka yang ada juga dapat memunculkan stereotip. Stereotip merupakan suatu proses generalisasi yang dilakukan secara tidak akurat tentang sifat ataupun perilaku yang dimiliki oleh individu yang menjadi bagian sebagai anggota dari suatu kelompok sosial tertentu CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Stereotip tersebut membentuk keyakinan individu tentang sifat atau perilaku dari individu-individu anggota kelompok tertentu CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Susetyo (2010) juga mengatakan bahwa stereotip merupakan hasil dari proses persepsi antar kelompok, yang dipengaruhi oleh kondisi sosial yang dialami dan dihayati secara subjektif oleh individu sebagai bagian dari anggota kelompok yang dimiliki.
Etnik JawaDaerah asal etnik Jawa, yang selanjutnya akan disebut juga sebagai orang Jawa, adalah Pulau Jawa. Mayoritas mendiami bagian tengah dan timur dari seluruh Pulau Jawa. Suseno (1996, dalam Susetyo, 2010) mengatakan bahwa orang Jawa ialah orang yang menggunakan Bahasa Jawa dalam arti sebenarnya sebagai bahasa ibunya. Hal ini sering terlihat pada orang Jawa yang tinggal didaerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara budaya, identitas orang Jawa dapat terwakilkan dengan sosok Semar, yang berarti Samar CITATION Noo10 l 1033 (Noorsena, 2010). Hal ini menyebabkan orang akan sulit untuk membedakan apakah orang tersebut sedang tersenyum atau menangis CITATION Noo10 l 1033 (Noorsena, 2010).

Dalam menjalin relasi sosial, orang Jawa cenderung memiliki kesadaran yang tinggi akan keberadaan orang lain (Mudler, 1994 dalam Susetyo, 2010). Dalam bukunya, Susetyo mengatakan bahwa orang Jawa identik dengan budayanya yang sopan. Ia juga menjelaskan bahwa sikap sopan, seperti memberikan salam dengan cara menunduk, menjadi tuntutan dalam situasi sosial. Sikap sopan ini juga berlaku terhadap orang yang belum begitu dikenal, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan yang lain.
Suseno (1996, dalam Susetyo, 2010) mengatakan bahwa orang Jawa memiliki dua prinsip, yakni prinsip kerukunan dan kehormatan:
Prinsip kerukunan
Prinsip kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat agar berada dalam keadaan harmonis. Dalam pandangan orang Jawa, kerukunan ditekankan untuk menghindari pecahnya konflik-konflik. Dalam hal ini, orang Jawa bukan menekankan bagaimana menciptakan keselarasan sosial, melainkan untuk tidak menggangu keselarasan sosial yang ada. Selain itu, prinsip kerukunan yang ditekankan pada etnik Jawa tidak menyangkut suatu sikap batin atau keadaan jiwa. Prinsip kerukunan yang ada lebih cenderung untuk mengatur permukaan hubungan-hubungan sosial yang terlihat. Hariyono (1994) menambahkan bahwa spontanitas dalam memberikan reaksi dengan mengungkapkan diri dan mengambil posisi tertentu dianggap tidak etis dalam budaya karena mampu memicu munculnya konflik atau ketegangan antar probadi. Ia juga menambahkan bahwa keadaan rukun bagi orang Jawa merupakan suatu hal yang memuaskan bagi orang Jawa, meskipun hanya sebagai suatu kesan yang tidak mencerminkan hakikatnya. Meski demikian, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang baik dan menarik oleh orang Jawa.

Prinsip hormat
Prinsip hormat mengambarkan bahwa setiap orang dalam berbicara atau membawa diri harus selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain dengan menekankan pada tingkatan derajat dan kedudukan orang secara hierarkis. Haryonno (1994) menambahkan bahwa kehormatan merupakan hal yang penting bagi masyarakat Jawa. Ia menjelaskan bahwa orang Jawa seringkali memendam perbuatan aib atau juga melihat perkara tersebut dari sisi positifnya atau mencari jalan tengah untuk mengembalikan kehormatan yang dimiliki. Prinsip hormat ini menjadi suatu upaya untuk menjaga kelestarian serta kebesaran komunitasnya CITATION Har94 l 1033 (Hariyono, 1994).

Etnik TionghoaEtnik Tionghoa merupakan salah satu etnik minoritas yang ada di Indonesia yang heterogen. Di Indonesia, etnik Tionghoa dapat dibedakan menjadi dua macam yakni Etnik Tionghoa yang sudah lama menetap di Indonesia dan pada umumnya sudah membaur, dikenal dengan Peranakan, serta Etnik Tionghoa yang merupakan pendatang baru (satu atau dua generasi) serta masih menggunakan bahasa asli, dikenal dengan Totok. CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010)Haryono (1994. Dalam Susetyo. 2010) menjelaskan bahwa dalam menjalin relasi sosial, orang Tionghoa cenderung mempertimbangkan nilai kerukunan dan nilai kesopanan, sebagai berikut:
Nilai kerukunan
Ajaran konfusius tentang Te mengajarkan untuk menolak kekerasan fisik, sikap saling percaya, serta menunjukkan nilai yang menjauhkan diri dari konflik. Hal ini juga ditambah dengan ajaran Jen yang mengajarkan mengenai kebaikan, serta Chun-Tzu yang mengajarkan tentang melayani atau meonolong orang lain dan berjiwa besar.
Nilai kesopanan
Ajaran Konfusius mengenai Li memngajarkan untuk memberikan penghormatan tertinggi terhadap keluarga dan usia. Bagi orang Tionghoa, keluarga menjadi bangunan dasar dari suatu masyarakat yang harus selalu dijaga dan dijunjung tinggi martabatnya. Selain itu, penghormatan terhadap usia juga menjadi hal yang penting. Hal ini dikarenakan usia memberikan nilai, martabat, dan keutamaan pada semua hal.
Dibalik nilai-nilai yang dianut oleh orang Tionghoa tersebut, terdapat berberapa stereotip yang melekat pada orang Tionghoa. Hariyono (1994) menjelaskan mengenai beberapa stereotip yang dimiliki oleh orang Tionghoa, yakni:
Sikap dan perilaku yang vulgar mengungkapkan opini.

Sikap ini muncul karena adanya pengaruh ajaran konfusius yang memberikan pemikiran bahwa perlunya ada batasan-batasan yang kelas dalam mengungkapkan suatu hal. Tanpa batasan yang jelas maka suatu opini tidak dapat dicerna. Bagi orang lain hal ini seringkali kurang enak didengar.
Sikap praktis-fungsional
Sikap ini menjadikan orang Tionghoa cenderung melihat dan mengutamakan nilai dari suatu peran, tanpa memperhatikan apakah nilai tersebut mengandung nilai lain. Selain itu, sikap ini juga mengakibatkan orang Tionghoa kurang menyukai formalitas. Formalitas dianggap tidak efisen atau lebih bersifat birokratis dan tidak memiliki pengaruh langsung pada substansinya.

Sistem kepercayaan yang kuat
Dalam menjalin relasi, orang Tionghoa memiliki sistem kepercayaan yang kuat menumbuhkan rasa kolektivitas yang tinggi yang memberikan kesan tertutup. Hal ini menyebabkan orang Tionghoa memberikan perhatian pada kredibilitas seseorang. Apabila kredibilitas tersebut diragukan, maka orang Tionghoa akan memutuskan relasi yang dimiliki. Hal ini dimaksudkan supaya orang tersebut tidak berkutik atau melakukan hal yang sama ditempat lain. Namun, apabila kredibilitas diragukan dan relasi harus terjadi maka mereka baru memperhatikan formalitas. Dalam hal ini, formalitas menjadi alat untuk menumbuhkan kepercayaan.

Sikap kurang peduli pada masalah kehidupan
Sikap kurang peduli pada masalah kehidupan ini muncul karena pemikiran fungsional orang Tionghoa yang menganggap bahwa penderitaan, rasa sakit, petaka, maut, dan kemarian merupakan salah satu kemungkinan yang bersifat rasional dalam ritme kehidupan. Pemikiran ini memunculkan pemikiran bahwa hal-hal tersebut tidak perlu di khawatirkan.

Ulet, keras, angkuh, atau superior
Sifat ulet, keras, angkuh atau superior yang dimiliki oleh orang Tionghoa merupakan bentuk dari adanya optimisme dan keyakinan diri. Optimisme tersebut disebabkan oleh adanya cara berpikir orang Tionghoa yang menggunakan logika secara runtut. Logika tersebut menjadi motivasi untuk memecahkan suatu masalah. Optimisme inilah yang menjadi modal untuk melakukan perencanaan dan pembuatan target dalam hidup.

DINAMIKA PERBEDAAN PERSEPSI EMOSI PADA EKSPRESI WAJAH BERDASARKAN IDENTITAS ETNIK
Identitas etnik merupakan proses identifikasi diri seseorang terhadap suatu kelompok etnik yang diperoleh secara askriptif (Chandra dalam Zaini, 2014). Selain itu, identitas etnik juga melibatkan adanya sikap, perilaku serta pengetahuan yang dimiliki seseorang sebagai anggota dari kelompok etnik tersebut CITATION Phi911 l 1033 m Tam161(Phinney J. S., 1991; Tampubolon, 2016) serta memiliki perasaan kepemilikan terhadap kelompok etniknya (Phinney 1990; Phinney 1996, dalam Ramdani, 2015). Dalam penelitian ini kelompok etnik yang dipilih ialah etnik Jawa dan etnik Tionghoa .
Etnik Jawa cenderung untuk menjaga keselarasan dalam melakukan hubungan sosial CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Sedangkan, orang pada etnik Tionghoa lebih cenderung untuk “vulgar” atau berterus terang dalam mengungkapkan segala emosi yang dirasakannya ketika menjalin hubungan sosial CITATION Sus10 l 1033 (Susetyo, 2010). Nilai yang dimiliki oleh etnik Jawa untuk selalu menjaga keharmonisan dalam berhubungan serta nilai yang dimiliki etnik Tionghoa untuk mengungkapkan semua hal secara terus terang. Nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing etnik inilah yang dikenal dengan istilah cultural display rule.
Cultural display rule ialah aturan-aturan sosio-budaya mengenai cara yang tepat dalam menunjukkan suatu ekspresi emosi tertentu (Ekman ; Friesen, 1971, dalam Hess dan Hareli, 2017). Cultural display rule menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mempersepsikan emosi, secara khusus dalam proses decoding. Ekspresi emosi yang dilarang pada budaya tertentu akan dipersepsikan dengan kurang akurat (Buck, 1984; Hess, 2001 dalam Hess ; Hareli, 2017). Pada etnik Jawa, nilai-nilai yang dianut cenderung melarang mereka untuk mengekspresikan sesuatu yang mampu menganggu keharmonisan dalam menjalin hubungan. Sedangkan, pada etnik Tionghoa tidak ada aturan yang melarang mereka untuk tidak mengeluarkan emosi-emosi negatif. Berdasarkan penjelasan cultural display rule tersebut maka etnik Jawa akan cenderung kurang akurat dalam mempersepsikan emosi-emosi negatif karena aturan budaya melarang mereka untuk menunjukkan ekspresi tersebut. Sedangkan pada etnik Tionghoa, mereka akan cenderung lebih mampu dalam mengenali emosi-emosi yanga ada karena mereka cenderung berterus terang dalam berekspresi.

Meski demikian, terdapat beberapa sikap serta cara berpikir yang berbeda dalam masing-masing etnik. Etnik Tionghoa memiliki sikap praktis dan fungsional dalam memberikan penilaian terkait suatu hal (Hariyono, 1994). Sikap praktis dan fungsional tersebut membuat etnik Tionghoa cenderung untuk tidak melihat apakah terdapat nilai lain yang dikandung dalam suatu nilai (Hariyono, 1994). Sikap praktis fungsional mampu mengarahkan etnik Tionghoa untuk hanya memberikan penilaian pada hal yang terlihat secara langsung atau permukaan. Sedangkan pada etnik Jawa memberikan reaksi secara spontanitas dianggap tidak etis karena mampu menimbulkan konflik (Hariyono, 1994). Sikap ini mengarahkan etnik Jawa untuk tidak bersikap secara spontan dalam menanggapi suatu hal. Hal ini mampu mendukung etnik Jawa untuk lebih mampu mengenali emosi dengan baik karena tidak secara spontan mengambil kesimpulan mengenai makna yang ada pada slide stimuli emosi. Sedangkan sikap yang dimiliki oleh etnik Tionghoa mampu mengarahkan mereka untuk tidak mengenali stimuli emosi karena cenderung menilai hal yang tampak dipermukaan tanpa adanya penilaian yang lebih mendalam.

Cara berpikir yang berbeda pada masing-masing budaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Cara berpikir yang berbeda tersebut menimbulkan perbedaan mengenai hal apa saja yang dianggap penting untuk diperhatikan dan hal yang diabaikan yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan dalam memberikan makna mengenai suatu pola yang ada CITATION Wad l 1033 (Wade, Tavris, ; Garry, 2016). Persepsi emosi pada ekspresi wajah tidak dapat dipisahkan dari proses persepsi. Persepsi emosi pada ekspresi wajah dapat diartikan sebagai sekumpulan tindakan mental dalam memaknai emosi yang diekspresikan pada wajah.
Persepsi emosi yang diteliti dalam penelitian ini ialah emosi senang, sedih, marah, dan takut yang dimunculkan pada ekspresi wajah. Berdasarkan cultural display rule dan sikap yang dimiliki oleh masing-masing etnik, maka etnik Jawa dan etnik Tionghoa akan menghasilkan persepsi emosi pada ekspresi wajah yang berbeda. Meski demikian belum diketahui dengan pasti dari kedua etnik tersebut etnik manakah yang mampu mengenali emosi dengan akurat.

SKEMA PENELITIAN842448200463Identitas Etnik Jawa
020000Identitas Etnik Jawa
3068320199740Identitas Etnik Tionghoa
00Identitas Etnik Tionghoa

2769235303530Meengungkapkan segala sesuatu secara ‘vulgar’ atau berterus terang.

Sikap praktis fungsional sehingga kurang memperhatikan nilai lain yang ada
00Meengungkapkan segala sesuatu secara ‘vulgar’ atau berterus terang.

Sikap praktis fungsional sehingga kurang memperhatikan nilai lain yang ada
492125303530Menjaga kerukunan yang ada pada taraf permukaan dalam menjalin hubungan sosial sehingga emosi sulit utuk ditebak
Tidak etis apabila memberikan reaksi secara spontan
00Menjaga kerukunan yang ada pada taraf permukaan dalam menjalin hubungan sosial sehingga emosi sulit utuk ditebak
Tidak etis apabila memberikan reaksi secara spontan
36979289456701403566958370
3701626290619131431029908500
2691765211719Pengalaman bahwa emosi yang sesungguhnya dimunculkan secara langsung dalam menjalin relasi
Hanya menilai sesuatu yang nampak dipermukaan
00Pengalaman bahwa emosi yang sesungguhnya dimunculkan secara langsung dalam menjalin relasi
Hanya menilai sesuatu yang nampak dipermukaan
474609211455Pengalaman bahwa emosi yang sesungguhnya tidak dimunculkan dalam menjalin relasi
Tidak bereaksi secara spontan dalam menanggapi suatu hal
00Pengalaman bahwa emosi yang sesungguhnya tidak dimunculkan dalam menjalin relasi
Tidak bereaksi secara spontan dalam menanggapi suatu hal

37016971804111393331186619
42876673660Mampu mengenali stimuli emosi
Tidak mampu mengenali stimuli emosi
00Mampu mengenali stimuli emosi
Tidak mampu mengenali stimuli emosi
270049968532Mampu mengenali stimuli emosi
Tidak mampu mengenali stimuli emosi
00Mampu mengenali stimuli emosi
Tidak mampu mengenali stimuli emosi

HIPOTESISHipotesis dalam penelitian “Perbedaan Persepsi Emosi Pada Ekspresi Wajah Berdasarkan Identitas Etnik”, ialah identitas etnik yang berbeda mampu memunculkan perbedaan dalam mempersepsikan emosi pada ekspresi wajah yang ada pada stimuli emosi.
BAB IIIMETODE PENELITIANJENIS PENELITIANJenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini ialah eksperimental-kuasi. Eksperimental-kuasi merupakan suatu bentuk penelitian yang digunakan untuk meneliti hubungan sebab-akibat, bersifat prospektif atau mampu menciptakan sesuatu yang terjadi di masa mendatang, namun dapat tidak melibatkan adanya control, manipulasi, dan randomisasi CITATION Sen15 l 1033 m Bak99 (Senianti, Yulianto, ; Setiadi, 2015; Baker, 1999). Jenis penelitian ini dirasa tepat karena kondisi variabel bebas, yakni identitas etnik, sudah dimiliki oleh subjek sebelum penelitian dilaksanakan sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan teknik randomisasi dalam pembagian partisipan menjadi kelompok-kelompok dalam eksperimen. Adapun jenis eksperimen yang dipilih ialah desain between-subject. Desain between subject merupakan desain penelitian eksperimen dimana terdapat dua kelompok dengan variasi variabel independen yang berbeda CITATION Sen15 l 1033 (Senianti, Yulianto, ; Setiadi, 2015).
VARIABEL PENELITIANDalam penelitian ini, variabel yang digunakan ialah satu variabel independen dan satu variabel dependen.

Variabel Dependen: Persepsi emosi pada ekspresi wajah
Variabel Independen: Identitas Etnik
(Etnik Jawa dan Etnik Tionghoa)
DEFINISI OPERASIONALIdentitas EtnikIdentitas Etnik merupakan proses identifikasi diri atau proses menandai diri pada suatu kelompok etnik tertentu yang bersifat askriptif atau turun temurun, melalui adanya proses evaluasi positif pada suatu kelompok etnik yang diikuti adanya sikap, perilaku, pengetahuan sebagai anggota serta adanya perasaan memiliki pada suatu kelompok etnik. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka identitas etnik partisipan dapat diketahui dengan meminta partsipan untuk mengisikan sebuah angket mengenai etnik yang dimiliki oleh kedua orang tuanya serta keanggotaannya dalam kelompok etnik tersebut. Semakin tinggi skor partisipan pada hasil angket, maka semakin tinggi kemampuan partisipan untuk mewakili etnik yang menjadi identitasnya.

Persepsi Emosi pada Ekspresi WajahPersepsi emosi pada ekspresi wajah dapat diartikan sebagai sekumpulan tindakan mental yang dilakukan seseorang untuk memberikan makna berkaitan dengan emosi yang ada pada wajah sebagai bentuk ekspresi. Jenis emosi yang digunakan disini adalah emosi marah, sedih, jijik, senang, dan takut yang diekspresikan pada ekspresi wajah. Dalam penelitian ini subjek diminta untuk menilai jenis emosi yang muncul serta intensitas emosi pada slide foto yang merupakan ekspresi wajah dengan stimuli emosi.
SUBJEK PENELITIANSubjek dalam penelitian ini adalah etnik Tionghoa dan etnik Jawa. Etnik yang dijadikan sampel dalam penelitian ini ialah Etnik Jawa dan Tionghoa yang berada di Yogyakarta yang sudah berada dalam usia dewasa atau tamat Sekolah Menengah Atas. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode pengambilan sempel non-acak atau convenience. Pemilihan secara non-cak tersebut dilakukan karena peneliti menggunakan sukarelawan yang bersedia sebagai partisipan CITATION Cre16 l 1033 (Creswell, 2016).
METODE DAN ALAT PENGUMPUL DATADalam penelitian ini, alat yang digunakan ialah angket identitas etnik, slideshow foto stimuli emosi dan lembar jawab stimuli emosi.

Angket Identitas Etnik
Angket identitas etnik merupakan sebuah angket yang menjadi landasan bagi peneliti untuk mempertimbangkan apakah subjek tersebut dapat berpartisipasi dalam penelitian ini atau tidak. Angket Identitas Etnik ini menggunakan skala likert. Skala likert digunakan untuk meminta subjek menjawab apakah item-item yang ada sesuai atau tidak dengan diri subjek CITATION Sup14 l 1033 (Supratiknya, 2014). Skala likert akan bergerak dari angka 1 hingga angka 5. Angka 1 menunjukkan bahwa item tersebut sangat tidak sesuai dengan diri subjek. Sedangkan, angka 5 digunakan untuk menunjukkan bahwa item tersebut sangat sesuai dengan diri subjek. Item-item yang digunakan dalam angket ini didasarkan pada aspek-aspek dalam identitas etnik yang telah disesuaikan dengan etniknya, baik Jawa maupun Tionghoa. Dalam pelaksanaannya, angket tersebut akan disebarkan secara online dan acak.

Slide Stimuli Emosi
Stimuli emosi yang diberikan berupa slide foto ekspresi wajah yang telah dibuat oleh Prawitasari (1991). Slide foto tersebut berisikan foto ekspresi wajah orang Indonesia yang berasal dari beberapa wilayah yang berbeda di Indonesia berwarna hitam putih yang berjumlah 24 foto. Pembuatan alat stimuli emosi yang berisikan foto ekspresi wajah didasarkan oleh penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Ekman mengenai ekspresi wajah dan budaya. Slide foto stimuli emosi akan disajikan secara random sesuai dengan pedoman dalam menggunakan alat tersebut. Masing-masing slide foto akan ditayangkan dengan waktu setengah menit yang akan dihitung dengan menggunakan stopwatch. Alat stimuli emosi dipilih oleh peneliti sebagai instrument penelitian karena alat ini sesuai dengan tujuan yang ada dalam penelitian ini. Selain itu, alat stimuli emosi ini juga memiliki reliabilitas yang baik bergerak dari 0,702 hingga 0,885. Adapun alat stimulasi ini sudah divalidasi oleh beberapa dosen senior dan junior Universitas Gadjah Mada serta oleh Paul Ekman.

Lembar Jawab Stimuli Emosi
Lembar jawab stimuli emosi merupakan satu rangkaian dengan stimuli emosi yang dibuat oleh Johana E. Prawitasari. Masing-masing partisipan akan diberikan sebuah lembar jawab stimuli emosi. Pada lembar jawab tersebut, terdiri dari empat pilihan emosi yakni emosi senang, sedih, marah, takut dan satu kotak kosong apabila partisipan menemukan adanya emosi yang berbeda dari empat pilihan emosi yang disediakan. Setelah partisipan memilih satu jenis emosi yang muncul dari gambar tersebut, partisipan diminta kembali untuk menilai intensitas emosi yang ada pada gambar. Adapun intensitas emosi bergerak dari angka 1 hingga 4.
PROSEDUR EKSPERIMEN
Langkah-langkah dalam melakukan eksperimen adalah sebagai berikut:
Peneliti akan menyebarkan angket online mengenai identitas etnik kepada calon subjek eksperimen untuk mendapatkan subjek yang sesuai dengan karakteristik eksperimen.

Subjek yang berdasarkan hasil angket sesuai dengan karakteristik eksperimen akan dihubungi oleh peneliti untuk mengikuti eksperimen pada waktu dan tempat yang ditentukan.

Pada hari pelaksanaan penelitian, subjek diminta untuk berkumpul disuatu ruangan dan proses eksperimen akan dilaksanakan secara bersama-sama.
Setelah semua subjek berkumpul, peneliti memperkenalkan diri dan memperkenalkan asisten penelitian yang akan memberikan instruksi.

Dua orang asisten peneliti membagikan lembar informed consent untuk diisi oleh subjek.
Subjek yang telah menyetujui untuk mengikuti eksperimen maka akan dibagikan satu ballpoint dan lembar jawab stimuli emosi.

Asisten peneliti membacakan mengenai cara pengerjaan yang ada di lembar jawab atau slide foto.

Asisten peneliti menerangkan contoh 1 dan 2 yang ada pada slide foto untuk memperjelas cara pengerjaan.

Selama eksperimen berlangsung, peneliti akan menunggu di luar ruangan eksperimen.

Apabila terdapat pertanyaan dari subjek yang tidak dapat dijawab oleh asisten peneliti maka asisten penelitian dapat menghubungi peneliti.

Setelah eksperimen selesai maka asisten peneliti akan memberitahu peneliti.

Peneliti masuk ke dalam ruangan dan mengucapkan terima kasih serta menjelaskan mengenai penelitian kepada subjek.

VALIDITAS DAN RELIABILITAS
Validitas Internal
Validitas internal merupakan validitas dalam menjaga hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel tergantung dalam eksperimen CITATION Sen15 l 1033 (Senianti, Yulianto, ; Setiadi, 2015). Validitas internal akan dilakukan dengan cara melalui kontrol dalam pelaksanaan eksperimen. Adapun beberapa kontrol yang dilakukan dalam penelitian ini, yakni:
Maturation
Dalam penelitian ini, kontrol maturation dilakukan dengan cara menggunakan partisipan penelitian yang berusia dewasa atau mahasiswa, yakni 18-22 .
Experimental Mortality
Dalam penelitian ini, kontrol experimental mortality dilakukan dengan cara menambah 5 orang subjek untuk berjaga apabila terdapat partisipan yang tidak datang pada hari pelaksanaan eksperimen.

Instrumentation Effect
Kontrol terhadap instrumentation effect dilakukan dengan cara meminta asisten peneliti untuk hanya membacakan instruksi yang telah dibakukan sebagai perintah yang ada baik dalam buku soal maupun lembar jawab yang disedikan. Selain itu, untuk mengurangi kesalahan pengerjaan yang dilakukan oleh partisipan diberikan dua contoh stimuli emosi sebelum tes yangs sesungguhnya dilaksanakan.

Experimenter Effect
Dalam pelaksanaannya, proses eksperimen akan dilaksanakan oleh dua orang asisten peneliti yang telah diberikan prosedur untuk menjalankan eksperimen. Dua orang asisten peneliti tesebut merupakan orang yang tidak memiliki identitas etnik yang diujikan serta tidak mengetahui jawaban yang benar dari stimulasi emosi yang diberikan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya experimenter bias.

Participant Sophistication
Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Prawitasari dan Martani (1993) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam mempersepsikan emosi pada kalangan professional dan non-profesional maka dalam penelitian ini, subjek yang dipilih bukanlah subjek yang berasal dari jurusan psikologi maupun bimbingan konseling. Menurut peneliti, mereka dianggap lebih peka terhadap emosi dibandingkan dengan masyarakat luas.

Validitas EksternalValiditas eksternal merupakan validitas yang berkaitan dengan sejauhmana hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada subjek, situasi, dan waktu yang berbeda. Validitas ekternal dalam penelitian ini diupayakan dengan melaksanakan eksperimen secara bersamaan dalam satu ruangan dan dengan waktu yang sama. Selain itu, peneliti membagikan angket identitas etnik kepada calon subjek sebelum eksperimen dilaksanakan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya bias seleksi. Bias seleksi yakni kesalahan dalam mengambil sampel yang tidak sesuai dengan karakteristik subjek penelitian CITATION Sen15 l 1033 (Senianti, Yulianto, ; Setiadi, 2015). Hasil angket tersebut akan digunakan untuk memverifikasi apakah subjek sesuai dengan karakteristik penelitian.

Validitas Alat Eksperimen
Menurut Supratiknya (2014), validitas merupakan taraf sejauh mana bukti empiris maupun bukti-bukti teoritis mendukung untuk membenarkan dalam menafsirkan skor yang diberikan alat ukur dalam mengukur atribut psikologis yang menjadi objek pengukuran. Foto-foto ekspresi wajah yang ada pada stimuli emosi yang digunakan mengandung emosi marah, sedih, senang, dan takut. Prawitasari menuliskan bahwa awalnya ia membuat 37 foto ekspresi wajah, namun hanya 24 foto yang valid untuk mengungkapkan emosi-emosi tersebut (Prawitasari 1993, 1995). Pada diskusi yang dilakukan secara langsung dengan Prawitasari pada tanggal 30 Maret 2018, beliau mengungkapkan bahwa alat stimulasi emosi yang dibuatnya sudah pernah diperlihatkan kepada Ekman sebagai pertimbangan dalam validitas alat.
Reliabilitas Alat Eksperimen
Reliabilitas merupakan konsistensi hasil pengukuran apabila pengukuran tersebut diberikan lebih dari satu kali dengan prosedur yang benar terhadap suatu populasi atau kelompok (Supratiknya, 2014). Alat stimuli emosi yang digunakan dalam penelitian ini memiliki koefisien reliabilitas alat bergerak antara 0,702 hingga 0,885 (Prawitasari, 1995).

METODE ANALISIS DATAUji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian terdistribusi secara normal atau tidak. Uji normalitas akan dilakukan dengan menggunakna program SPSS versi 22 dengan alat uji kolmogorov-smirnov.

Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji statistik komparatif non-parametrik dengan menggunakan tes kai kuadrat atau chi-square. Uji non-prametrik dalam penelitian ini digunakan karena distribusi populasi tidak diketahui, jumlah sampel yang kecil, serta data yang berbentuk frekuensi (Suparno, 2016). Tes chi square (x2) digunakan untuk menguji sampel yang memiliki data berbentuk frekuensi (Suparno, 2016). DAFTAR PUSTAKA BIBLIOGRAPHY Ali, R., Indrawari, E. S., ; Masyukur, A. M. (2010, April). Hubungan Antara Identitas Etnik dengan Prasangka terhadap Etnik Tolaki pada Mahasiswa Muna di Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi Tenggara. Jurnal Psikologi Undip, 7 (1), 18-26.

Baker, T. (1999). Doing Social Research (3rd ed ed.). Singapore: McGraw-Hill College.

Barker, L. L., ; Gaut, D. R. (1941). Communication (8 ed.). USA: Allyn and Bacon.

Barrett, Lisa Feldman; Mesquita, Batja; Gendron, Maria;. (2011). Context in Emotion Perception. Association for Psychological Science, 20 (5), 286-290. doi:10.1177/09637214114225522
Barth, F. (1969). Introduction. In F. Barth (Ed.), Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culture Difference (pp. 9-38). Boston: Little, Brown and Company.

Creswell, J. W. (2016). Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran (4th ed.). (A. Fawaid, ; R. K. Pancasari, Trans.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Damasio, A. R. (2000). The Feeling of What Happens: Body and Emotions in the Making of Consciousness. New York: Harcourt Brace ; Company.

DeVito, J. (2011). Komunikasi Antar Manusia (5 ed.). (L. Saputra, Y. I. Wahyu, Y. Prihantini, Eds., ; A. Maulana, Trans.) Pamulang: Karisma Publishing Group.

Ekman, P. (2003). Emotion Revealed: Recognizing Faces and Feelings to Improve Communication and Emotional Life. New York: Times Books.

Ekman, P., ; Rosenberg, E. (2005). What The Face Reveals: Basic and Applied Studies of Spontaneous Expression Using The Facial Action Coding System (FACS) (2nd ed.). New York: Oxford University Press.

French, S. E., Seidman, E., Allen, L., ; Aber, J. L. (2006). The Development of Ethnic Identity During Adolescence. Developmental Psychology, 42 (1), 1-10. doi:10.1037/0012-1649.42.1.1.

Gendron, M., ; Barret, L. F. (2017). Facing the Past: A History of the Face in Psychological Research on Emotion Perception. In D. Fernandez, M. Jose, ; J. A. Russell, The Science of Facial Expression (pp. 15 – 36). New York: Oxford University Pressed.

Gendron, M., Roberson, D., Marietta, J., ; Barret, L. F. (2014). Perceptions of Emotion From Facial Expressions Are Not Culturally Universal: Evidance From a Remote Culture. American Psychlogical Association, 14 (2), 251-262. doi:10.1037/a0036052
Hariyono, P. (1994). Kultur Cina dan Jawa: Pemahaman Menuju Asimilasi Kultural. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Hess, U., ; Hareli, S. (2017). The Social Signal Value of Emotions: The Role of Contextual Factors in SOcial Inferences Drawn From Emotion Displays. In J. M. Fernandez-Dols, ; J. A. Russell, The Science of Facial Expression (pp. 375 – 393). New York: Oxford University Press.

Hudayana, B. (1998, November – Desember). Pembauran Identitas Etnik di Kalangan Mahasiswa Universitas Gajah Mada. Humaniora, 9, 101 – 111.

Hybels, S., ; Waaver II, R. (2004). Communicating Effectively. USA: McGraw-Hill.

Isajiw, W. W. (1993). Definition and Dimensions of Ethnicity: A Theoritical Framework. Challanges of Measuring an Ethnic World: Science, politics and reality: Proceedings of the Joint Canada-United Stated Conference on the Measurement of Ethnicity (pp. 407-427). Washington, D.C.: Government Printing Office.

Macions, J. J. (2007). Sociology (11 ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Marsh, A. A., Elfenbein, H. A., ; Ambady, N. (2003). Nonverbal “Accents”: Cultural Differences in Facial Expression of Emotion. Harvard University, Department of Psychology. St. Cambridge: American Psychological Society.

Matsumoto, D. (1993). Ethnic Differences in Affect Intensity, Emotion Judgments, Display Rule Attitudes, and Self Reported Emotional Expression in an American Sample. Motivation and Emotion, 17(2), 107-123.

Matsumoto, D., ; Hwang , H. S. (2012). Culture and Emotion: The Integration of Biological and Cultural Contributions. Journal of Cross-Cultural Psychology, 43 (1), 91-118.

Naab, P. J., ; Russell, J. A. (2007). Judgments of Emotion From Spontaneous Facial Expression of New Guineans. Emotion, 7 (4), 736-744. doi:10.1037/1528-3542.7.4.736
Na’im, A., & Syaputra, H. (2011). Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Noorsena, B. (2010). Nilai-nilai Budaya dan Spiritualitas Jawa. In Pudjaprijatnma, J. Folbert, P. Dirdjosanjoto, N. Kana, J. Slob, B. Lazarusli, . . . A. Waskitoadi (Eds.), Pijar-Pijar Berteologi Lokal: Berteologi Lokal dari Perspektif Sejarah dan Budaya (pp. 12-20). Salatiga: Pustaka Percik.

Ohman, A. (2000). Fear and Anxiety: Evolutionary, Cognitive, and Clinical Perspective. In M. Lewis, & J. M. Haviland-Jones, Handbook of Emotions (2 ed., pp. 573-593). New York: The Guilford Press.

Phinney, J. (1990). Ethnic Identity in Adolescents and Adults: Review of Research. Psychlogy Bulletin, 108 (3), 499-514.

Phinney, J. S. (1991, Mei). Ethnic Identity and Self-Esteem: A Review and Integration. Hispanic Journal of Behavioral Sciences, 13 (2), 193-208.

Prawitasari, J. E. (1995). Mengenal Emosi Melalui Komunikasi Nonverbal. Bulletin Psikologi, Tahun III, Nomor 1, 27-43.

Prawitasari, J. E. (2006). Emosi atau Persepsi tentang Emosi? Anima, Indonesian Psychologial Journal, 22 (1), 1-16.

Prawitasari, J. E., & Martani, W. (1993). Kepekaan Terhadap Komunikasi Nonverbal di Antara Masyarakat yang Berbeda Budaya. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Ramdani, R. &. (2015). Kebanggaan Atas Identitas Etnik Pada Mahasiswa Perantauan Kelompok Etnik Minang dan Batak di Bandung. Prosiding Penelitian Sivitas Akademika Unisba (Social dan Humaniora) (pp. 455-459). Bandung: Universitas Islam Bandung.

Russell, J. A., & Fernandez-Dols, J. M. (2002). What does a facial expression mean? In J. A. Russell, & J. M. Fernandez-Dols, The Psychology of Facial Expression (pp. 3-30). Paris: Maison des Sciences de I’Homme ; Cambridge University Press.

Santoso, S. (2015). Menguasai SPSS22: From Basic To Expert Skills. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sedarmayanti, ; Hidayat, S. (2011). Metodologi Penelitian. Bandung: Mandar Maju.

Senianti, L., Yulianto, A., ; Setiadi, B. N. (2015). Psikologi Eksperimen. Jakarta: Pt. Indeks.

Strongman, K. T. (2003). The Psychology of Emoiton (5 ed.). Inggris: John Wiley ; Sons Ltd.

Suparno, P. (2011). Pengantar Statistika untuk Pendidikan dan Psikologi (Buku Mahasiswa). Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.

Suparno, P. (2016). Pengantar Statistika untuk Pendidikan dan Psikologi (Buku Mahasiswa) Edisi Revisi. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Susetyo, D. P. (2010). Stereotip dan Relasi Antarkelompok (1 ed.). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tampubolon, S. H. (2016). Peran Identitas Etnis dalam Komunikasi Antar Budaya pada Komunitas India Tamil di Kampung Madras Kota Medan. Jurnal Ilmu Komunikasi Flow, 3 (1), 1-9. Retrieved from https://jurnal.usu.ac.id
Tombs, A. G., Bennett, R. R., ; Ashkanasy, N. M. (2014). Recognising Emotional Expressions of Complaining Customers: A cross-cultural study. European Journal of Marketing, 48 (7/8), 1354-1374. doi:10.1108/EJM-02-2011-0090
Tracy, J. L., Randles, D., ; Steckler, C. M. (2015, Januari 15). The Nonverbal Communication of emotions. (M. J. Crockett, ; A. Cuddy, Eds.) Behavioral Science, 3(Social Behavior), 5-30. Retrieved from http://dx.doi.org/10/1016/j.cobeha.2015.01.0012352-1546
Varkuyten, M. (2005). The Social Psychology of Ethnic Identity. New York: Psychology Press.

Wade, C., Tavris, C., ; Garry, M. (2016). Psikologi (11 ed.). (O. M. Dwiasri, A. Maulana, Cokro, Eds., B. Widyasinta, I. D. Juwono, ; N. V. Santika, Trans.) Jakarta: Penerbit Erlangga.

Wedya, E. N. (2017, Mei 9). Okezone: News: Nusantara. Retrieved September 6, 2017, diakses melalui Okezone.com: https://news.okezone.com/read/2017/05/09/340/1686539/hanya-gara-gara-salah-paham-remaja-ini-tikam-temannya-hingga-tewas
Zaini, M. R. (2014, Januari). Perjalanan Menjadi Cina Benteng: Studi Identitas Etnis di Desa Situgadung. Jurnal Sosiologi MASYARAKAT, 19 (1), 93-117.